Jumat, 14 September 2018

Translation, Indonesian Source Text

Sample work

Indonesian source text

Mendikbud Tegaskan Pendidikan di NTB Harus Tetap Berjalan

Oleh Andika Primasiwi
Suara Merdeka News, Mataram

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy belum lama ini memimpin apel siaga Kembali Sekolah di lapangan Bumi Gora, kantor Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), kota Mataram. Mendikbud mengimbau agar siswa dapat terus belajar dan bersekolah. Pendidikan harus terus berjalan meskipun dalam keterbatasan kondisi sarana prasarana.

"Dengan dicanangkannya Gerakan Kembali Sekolah ini, untuk mempertegas kembali, apapun kondisinya, anak-anak NTB tidak boleh berhenti belajar. Tiada hari tanpa belajar," disampaikan Mendikbud di depan sekitar tiga ribu peserta apel yang terdiri dari perwakilan guru, siswa, relawan, dan pegawai unit pelaksana teknis (UPT) Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud).

Muhadjir memotivasi para guru untuk bersemangat agar bisa segera mendorong anak didiknya kembali bersekolah. "Yang paling penting anak-anak diajak untuk bergembira dulu. Gurunya bisa membuat anak-anak merasakan the joy of learning dulu," tuturnya.
Untuk membantu meringankan beban guru, Kemendikbud menyalurkan tunjangan khusus untuk para guru terdampak gempa di NTB. Dana bantuan telah disalurkan melalui rekening Bank Rakyat Indonesia (BRI) atas nama masing-masing guru. "Untuk guru PNS sebesar 1,5 juta setiap bulan, sedangkan untuk guru non-PNS sebesar 2 juta rupiah setiap bulan, selama enam bulan," kata Mendikbud disambut gembira para guru.

Total guru yang telah mendapatkan bantuan tunjangan khusus dari Kemendikbud sebanyak 5.298 guru di wilayah Kabupaten Lombok Utara, Kabupaten Lombok Timur, Kabupaten Lombok Barat, Kota Mataram, dan Sumbawa. Mendatang, dimungkinkan penambahan jumlah penerima bantuan seiring dengan pemutakhiran data yang dilakukan.
"Yang penting, jangan sampai yang tidak terdampak gempa mendapatkan tunjangan. Dan yang terdampak gempa, malah tidak mendapatkan. Saya titip kepada dinas pendidikan untuk benar-benar mendata guru-gurunya," pesan Mendikbud usai menyerahkan bantuan kepada Bupati Lombok Utara.

Bantuan kepada guru terdampak gempa di NTB ini merupakan bentuk perlindungan kepada guru sesuai dengan Permendikbud Nomor 11 Tahun 2017. "Tunjangan khusus yang saya terima ini insyallah mungkin untuk membangun kembali tempat tinggal, dan sebagian lagi untuk keluarga saya yang terkena musibah juga," kata Hirmawati, guru Taman Kanak-kanak Aisyah Lekok, Kabupaten Lombok Utara.



English Translation text

By Andika Primasiwi
Suara Merdeka News, Mataram

Minister of Education and Culture Affirms Education in NTB Must Keep Running

Minister of Education and Culture (Mendikbud) Muhadjir Effendy recently led the School Returns alert in the Bumi Gora field, the West Nusa Tenggara (NTB) Governor's office, Mataram city. The Minister of Education and Culture urges students to continue to study and attend school. Education must continue despite the limited conditions of infrastructure.

"With the launch of the School Back Movement, to reaffirm, whatever the conditions, NTB children should not stop learning. There is no day without learning," said the Minister of Education and Culture in front of about three thousand ceremony participants consisting of representatives of teachers, students, volunteers, and employee of the technical implementing unit (UPT) of the Ministry of Education and Culture (Kemendikbud).

Muhadjir motivated teachers to be impassioned in order to encourage their students to return to school quickly. "The most important thing is that children are invited to be happy first. The teacher can make children feel the joy of learning first," he said.

To help ease the burden on teachers, the Ministry of Education and Culture distributed special allowances for teachers affected by the earthquake in NTB. Aid funds have been channeled through Bank Rakyat Indonesia (BRI) accounts in the name of each teacher. "For civil servant teachers of 1.5 million every month, while for non-PNS teachers are 2 million rupiah every month, for six months," the Minister of Education and Culture welcomed the teachers.

A total of 5,298 teachers have received special allowances from the Ministry of Education and Culture in the North Lombok Regency, East Lombok District, West Lombok Regency, Mataram City, and Sumbawa. In the future, it is possible to increase the number of beneficiaries along with the data update that is done.

"The important thing is not to get those who were not affected by the earthquake to get benefits. And those affected by the earthquake did not get it. I entrusted the education office to actually record the teachers," the Minister of Education and Culture ordered after giving assistance to the North Lombok Regent.

This assistance to teachers affected by the earthquake in NTB is a form of protection to teachers in accordance with Permendikbud No. 11 of 2017. "The special allowance that I received is probably possible to rebuild my residence, and partly for my family who were also affected," said Hirmawati, Aisyah Lekok Kindergarten teacher, North Lombok Regency.

Translation, English Source Text

Sample work

English source text

 

Alternative forms of education


Developments in Internet-based communications and instructional technologies since the late 20th century provide previously unimaginable opportunities for people of all ages to tap the vast stores of world knowledge. Many of these technologies inevitably bring forth new forms of socialization. Contradicting the long-term historical movement away from apprenticeships or learning within a familysetting and toward institutionalized education controlled by central governments, distance learning and other technological developments have opened the possibilities of learning in multiple ways at various sites—all under the control of individual learners.

Technologies that promise to bring people together to share knowledge and life experiences, conversely, may also lead to the isolation of individuals and to the absence of face-to-face interactions among peers and teachers that are critical to preparation for adult roles as members of particular cultures and societies. Homeschooling has also raised concerns about childhood socialization, though consortia of homeschooling parents (whereby students can meet and attend classes with other home-based students) are increasingly common. The use of learning packages and degree programs exported from the metropolitan centres of North AmericaEurope, and the Pacific (notably Australia) to the countries of the Southern Hemisphere, while providing opportunity for advanced studies, may also include culturally inappropriate content, disregard for traditional knowledge, and the displacement of local languages by an international lingua franca, such as English.

Finally, it should be noted that, in addition to state-regulated schooling, there are many parallel or supplementary systems of education often designated as “nonformal” and “popular.” Many private and public agencies provide various forms of instruction, aimed at specific populations, to serve needs not met by public schooling. In Sweden, for example, reforms implemented in the 1990s enabled private, for-profit schools to provide free public education in exchange for government funding. Another internationally recognized example is BRAC (the Bangladesh Rural Action Committee), a non governmental organization (NGO) that combines community-based literacy and basic education programs with income generating activities for girls and women. BRAC and other NGOs helped raise enrollments in Bangladeshi schools from 55 percent in 1985 to 85 percent by the 21st century.

In programs such as these, education for job entry, upgrading, or promotion occurs on a vast and systematic scale, sometimes offering educational certificates equivalent to college degrees for educational goals achieved while working. Religious institutions, as they have done in the past, instruct the young and old alike not only in sacred knowledge but also in the values and skills required for participation in local, national, and transnational societies as well. And mass media may also be considered a parallel education system that offers world views and explanations of how society works, commonly in the form of entertainment, and that systematically reaches larger audiences than formal schooling. These parallel systems may complement, compete with, or even conflict with existing state-sponsored systems of schooling, and they provide challenges that current school systems, as in the past, must confront and reconcile as well as they can.




Indonesian Translation text

Bentuk Pendidikan Alternatif

Perkembangan dalam komunikasi berbasis Internet dan teknologi instruksional sejak akhir abad ke-20 memberikan kesempatan yang tak terbayangkan sebelumnya bagi orang-orang dari segala usia untuk memasuki perbekalan pengetahuan dunia yang luas. Banyak dari perkembangan teknologi ini yang secara tidak terelakkan menghasilkan bentuk-bentuk sosialisasi baru. Bertentangan dengan pergerakan sejarah panjang terdahulu yang jauh dari praktek lapangan atau belajar dalam lingkup keluarga dan menuju lembaga pendidikan yang dikendalikan oleh pemerintah pusat, pembelajaran jarak jauh dan perkembangan teknologi lainnya telah membuka kemungkinan pembelajaran dalam berbagai cara di berbagai lokasi — semuanya di bawah kendali masing-masing pelajar.

Teknologi yang menjanjikan untuk menyatukan orang-orang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman hidup, sebaliknya, mungkin juga mengarah pada pengasingan individu dan tidak adanya interaksi tatap muka di antara teman sebaya dan guru, yang sangat penting untuk persiapan peran dewasa nanti sebagai anggota dari budaya tertentu dan masyarakat. Homeschooling juga telah menimbulkan kekhawatiran tentang sosialisasi masa kanak-kanak, meskipun konsorsium orang tua homeschooling (di mana siswa dapat bertemu dan menghadiri kelas dengan siswa berbasis rumah lainnya) semakin umum. Penggunaan paket pembelajaran dan program jenjang yang diekspor dari pusat metropolitan Amerika Utara, Eropa, dan Pasifik (terutama Australia) ke negara-negara di Belahan Bumi Selatan, sambil memberikan kesempatan untuk studi lanjutan, mungkin juga mencakup konten yang tidak pantas secara budaya, mengabaikan pengetahuan tradisional, dan perpindahan bahasa lokal oleh bahasa pengantar internasional, seperti bahasa Inggris.

Pada Akhirnya, harus dicatat bahwa, di samping sekolah yang diatur negara bagian, ada banyak sistem pendidikan paralel atau tambahan yang sering ditetapkan sebagai "nonformal" dan "populer." Banyak lembaga swasta dan publik menyediakan berbagai bentuk instruksi, yang ditujukan untuk kelompok tertentu, untuk melayani kebutuhan yang tidak dipenuhi oleh sekolah umum. Di Swedia, misalnya, reformasi yang dilaksanakan pada 1990-an memungkinkan sekolah swasta, nirlaba untuk menyediakan pendidikan umum gratis dengan imbalan pendanaan pemerintah. Contoh lain yang diakui secara internasional adalah BRAC (Komite Aksi Pedesaan Bangladesh), sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang menggabungkan program literasi dan pendidikan dasar berbasis masyarakat dengan kegiatan yang menghasilkan pendapatan untuk anak perempuan dan wanita. BRAC dan LSM lain membantu meningkatkan pendaftaran di sekolah-sekolah Bangladesh dari 55 persen pada tahun 1985 menjadi 85 persen pada abad ke-21.

Dalam program seperti ini, pendidikan untuk masuk pekerjaan, peningkatan, atau promosi terjadi pada skala yang luas dan sistematis, terkadang menawarkan sertifikat pendidikan yang setara dengan gelar sarjana untuk tujuan pendidikan yang dicapai saat bekerja. Lembaga agama, seperti yang telah mereka lakukan di masa lalu, menginstruksikan orang tua dan muda tidak hanya mengamalkan pengetahuan agama tetapi juga mengamalkan nilai dan keterampilan yang diperlukan untuk bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dan media massa juga dapat dianggap sebagai sistem pendidikan paralel yang menawarkan pandangan dunia dan penjelasan tentang bagaimana masyarakat bekerja, umumnya dalam bentuk hiburan, dan yang secara sistematis menjangkau khalayak yang lebih besar dari pada sekolah formal. Sistem paralel ini dapat melengkapi, bersaing, atau bahkan berkonflik dengan sistem sekolah yang disponsori negara, dan mereka memberikan tantangan bahwa sistem sekolah saat ini, seperti di masa lalu, harus menghadapi dan menyesuaikan sebaik yang mereka bisa.