English source text
Alternative forms of education
Developments in Internet-based
communications and instructional technologies since the late 20th century
provide previously unimaginable opportunities for people of all ages to tap the
vast stores of world knowledge. Many of these technologies inevitably bring
forth new forms of socialization.
Contradicting the long-term historical movement away from apprenticeships or
learning within a familysetting and toward institutionalized
education controlled by central governments, distance
learning and other technological developments have opened the
possibilities of learning in multiple ways at various sites—all under the
control of individual learners.
Technologies that promise to bring people together to share
knowledge and life experiences, conversely, may also lead to the isolation of
individuals and to the absence of face-to-face interactions among peers and
teachers that are critical to preparation for adult roles
as members of particular cultures and societies. Homeschooling has
also raised concerns about childhood socialization, though consortia of
homeschooling parents (whereby students can meet and attend classes with other
home-based students) are increasingly common. The use of learning packages and degree programs exported
from the metropolitan centres of North America, Europe,
and the Pacific (notably Australia) to the countries of the Southern
Hemisphere, while providing opportunity for advanced studies, may also include
culturally inappropriate content, disregard for traditional knowledge, and the
displacement of local languages by an international lingua franca,
such as English.
Finally, it should be noted that, in addition to state-regulated
schooling, there are many parallel or supplementary systems of education often
designated as “nonformal” and “popular.” Many private and public agencies
provide various forms of instruction, aimed at specific populations, to serve
needs not met by public schooling. In Sweden, for example, reforms implemented in
the 1990s enabled private, for-profit schools to provide free public education
in exchange for government funding. Another internationally recognized example
is BRAC (the Bangladesh Rural Action Committee), a non governmental organization (NGO) that combines
community-based literacy and basic education programs
with income generating activities for girls and women. BRAC and other NGOs
helped raise enrollments in Bangladeshi schools from 55 percent in 1985 to 85
percent by the 21st century.
In programs such as these, education for job entry, upgrading, or
promotion occurs on a vast and systematic scale, sometimes offering educational
certificates equivalent to college degrees
for educational goals achieved while working. Religious institutions, as they
have done in the past, instruct the young and old alike not only in sacred
knowledge but also in the values and skills required for participation in
local, national, and transnational societies as well. And mass media may
also be considered a parallel education system that offers world views and
explanations of how society works, commonly in the form of entertainment, and
that systematically reaches larger audiences than formal schooling. These
parallel systems may complement, compete with, or even conflict with existing
state-sponsored systems of schooling, and they provide challenges that current
school systems, as in the past, must confront and reconcile as well as
they can.
Indonesian Translation text
Bentuk Pendidikan Alternatif
Perkembangan dalam komunikasi berbasis
Internet dan teknologi instruksional sejak akhir abad ke-20 memberikan
kesempatan yang tak terbayangkan sebelumnya bagi orang-orang dari segala usia
untuk memasuki perbekalan pengetahuan dunia yang luas. Banyak dari perkembangan
teknologi ini yang secara tidak terelakkan menghasilkan bentuk-bentuk
sosialisasi baru. Bertentangan dengan pergerakan sejarah panjang terdahulu yang
jauh dari praktek lapangan atau belajar dalam lingkup keluarga dan menuju lembaga
pendidikan yang dikendalikan oleh pemerintah pusat, pembelajaran jarak jauh dan
perkembangan teknologi lainnya telah membuka kemungkinan pembelajaran dalam
berbagai cara di berbagai lokasi — semuanya di bawah kendali masing-masing pelajar.
Teknologi yang menjanjikan untuk menyatukan
orang-orang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman hidup, sebaliknya, mungkin
juga mengarah pada pengasingan individu dan tidak adanya interaksi tatap muka
di antara teman sebaya dan guru, yang sangat penting untuk persiapan peran
dewasa nanti sebagai anggota dari budaya tertentu dan masyarakat. Homeschooling
juga telah menimbulkan kekhawatiran tentang sosialisasi masa kanak-kanak,
meskipun konsorsium orang tua homeschooling (di mana siswa dapat bertemu dan
menghadiri kelas dengan siswa berbasis rumah lainnya) semakin umum. Penggunaan
paket pembelajaran dan program jenjang yang diekspor dari pusat metropolitan
Amerika Utara, Eropa, dan Pasifik (terutama Australia) ke negara-negara di
Belahan Bumi Selatan, sambil memberikan kesempatan untuk studi lanjutan,
mungkin juga mencakup konten yang tidak pantas secara budaya, mengabaikan pengetahuan
tradisional, dan perpindahan bahasa lokal oleh bahasa pengantar internasional,
seperti bahasa Inggris.
Pada Akhirnya, harus dicatat bahwa, di
samping sekolah yang diatur negara bagian, ada banyak sistem pendidikan paralel
atau tambahan yang sering ditetapkan sebagai "nonformal" dan
"populer." Banyak lembaga swasta dan publik menyediakan berbagai
bentuk instruksi, yang ditujukan untuk kelompok tertentu, untuk melayani
kebutuhan yang tidak dipenuhi oleh sekolah umum. Di Swedia, misalnya, reformasi
yang dilaksanakan pada 1990-an memungkinkan sekolah swasta, nirlaba untuk
menyediakan pendidikan umum gratis dengan imbalan pendanaan pemerintah. Contoh
lain yang diakui secara internasional adalah BRAC (Komite Aksi Pedesaan
Bangladesh), sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang menggabungkan program
literasi dan pendidikan dasar berbasis masyarakat dengan kegiatan yang
menghasilkan pendapatan untuk anak perempuan dan wanita. BRAC dan LSM lain
membantu meningkatkan pendaftaran di sekolah-sekolah Bangladesh dari 55 persen
pada tahun 1985 menjadi 85 persen pada abad ke-21.
Dalam program seperti ini, pendidikan untuk
masuk pekerjaan, peningkatan, atau promosi terjadi pada skala yang luas dan
sistematis, terkadang menawarkan sertifikat pendidikan yang setara dengan gelar
sarjana untuk tujuan pendidikan yang dicapai saat bekerja. Lembaga agama,
seperti yang telah mereka lakukan di masa lalu, menginstruksikan orang tua dan
muda tidak hanya mengamalkan pengetahuan agama tetapi juga mengamalkan nilai
dan keterampilan yang diperlukan untuk bermasyarakat, berbangsa dan bernegara.
Dan media massa juga dapat dianggap sebagai sistem pendidikan paralel yang
menawarkan pandangan dunia dan penjelasan tentang bagaimana masyarakat bekerja,
umumnya dalam bentuk hiburan, dan yang secara sistematis menjangkau khalayak
yang lebih besar dari pada sekolah formal. Sistem paralel ini dapat melengkapi,
bersaing, atau bahkan berkonflik dengan sistem sekolah yang disponsori negara,
dan mereka memberikan tantangan bahwa sistem sekolah saat ini, seperti di masa
lalu, harus menghadapi dan menyesuaikan sebaik yang mereka bisa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar