Jumat, 14 September 2018

Translation, English Source Text

Sample work

English source text

 

Alternative forms of education


Developments in Internet-based communications and instructional technologies since the late 20th century provide previously unimaginable opportunities for people of all ages to tap the vast stores of world knowledge. Many of these technologies inevitably bring forth new forms of socialization. Contradicting the long-term historical movement away from apprenticeships or learning within a familysetting and toward institutionalized education controlled by central governments, distance learning and other technological developments have opened the possibilities of learning in multiple ways at various sites—all under the control of individual learners.

Technologies that promise to bring people together to share knowledge and life experiences, conversely, may also lead to the isolation of individuals and to the absence of face-to-face interactions among peers and teachers that are critical to preparation for adult roles as members of particular cultures and societies. Homeschooling has also raised concerns about childhood socialization, though consortia of homeschooling parents (whereby students can meet and attend classes with other home-based students) are increasingly common. The use of learning packages and degree programs exported from the metropolitan centres of North AmericaEurope, and the Pacific (notably Australia) to the countries of the Southern Hemisphere, while providing opportunity for advanced studies, may also include culturally inappropriate content, disregard for traditional knowledge, and the displacement of local languages by an international lingua franca, such as English.

Finally, it should be noted that, in addition to state-regulated schooling, there are many parallel or supplementary systems of education often designated as “nonformal” and “popular.” Many private and public agencies provide various forms of instruction, aimed at specific populations, to serve needs not met by public schooling. In Sweden, for example, reforms implemented in the 1990s enabled private, for-profit schools to provide free public education in exchange for government funding. Another internationally recognized example is BRAC (the Bangladesh Rural Action Committee), a non governmental organization (NGO) that combines community-based literacy and basic education programs with income generating activities for girls and women. BRAC and other NGOs helped raise enrollments in Bangladeshi schools from 55 percent in 1985 to 85 percent by the 21st century.

In programs such as these, education for job entry, upgrading, or promotion occurs on a vast and systematic scale, sometimes offering educational certificates equivalent to college degrees for educational goals achieved while working. Religious institutions, as they have done in the past, instruct the young and old alike not only in sacred knowledge but also in the values and skills required for participation in local, national, and transnational societies as well. And mass media may also be considered a parallel education system that offers world views and explanations of how society works, commonly in the form of entertainment, and that systematically reaches larger audiences than formal schooling. These parallel systems may complement, compete with, or even conflict with existing state-sponsored systems of schooling, and they provide challenges that current school systems, as in the past, must confront and reconcile as well as they can.




Indonesian Translation text

Bentuk Pendidikan Alternatif

Perkembangan dalam komunikasi berbasis Internet dan teknologi instruksional sejak akhir abad ke-20 memberikan kesempatan yang tak terbayangkan sebelumnya bagi orang-orang dari segala usia untuk memasuki perbekalan pengetahuan dunia yang luas. Banyak dari perkembangan teknologi ini yang secara tidak terelakkan menghasilkan bentuk-bentuk sosialisasi baru. Bertentangan dengan pergerakan sejarah panjang terdahulu yang jauh dari praktek lapangan atau belajar dalam lingkup keluarga dan menuju lembaga pendidikan yang dikendalikan oleh pemerintah pusat, pembelajaran jarak jauh dan perkembangan teknologi lainnya telah membuka kemungkinan pembelajaran dalam berbagai cara di berbagai lokasi — semuanya di bawah kendali masing-masing pelajar.

Teknologi yang menjanjikan untuk menyatukan orang-orang untuk berbagi pengetahuan dan pengalaman hidup, sebaliknya, mungkin juga mengarah pada pengasingan individu dan tidak adanya interaksi tatap muka di antara teman sebaya dan guru, yang sangat penting untuk persiapan peran dewasa nanti sebagai anggota dari budaya tertentu dan masyarakat. Homeschooling juga telah menimbulkan kekhawatiran tentang sosialisasi masa kanak-kanak, meskipun konsorsium orang tua homeschooling (di mana siswa dapat bertemu dan menghadiri kelas dengan siswa berbasis rumah lainnya) semakin umum. Penggunaan paket pembelajaran dan program jenjang yang diekspor dari pusat metropolitan Amerika Utara, Eropa, dan Pasifik (terutama Australia) ke negara-negara di Belahan Bumi Selatan, sambil memberikan kesempatan untuk studi lanjutan, mungkin juga mencakup konten yang tidak pantas secara budaya, mengabaikan pengetahuan tradisional, dan perpindahan bahasa lokal oleh bahasa pengantar internasional, seperti bahasa Inggris.

Pada Akhirnya, harus dicatat bahwa, di samping sekolah yang diatur negara bagian, ada banyak sistem pendidikan paralel atau tambahan yang sering ditetapkan sebagai "nonformal" dan "populer." Banyak lembaga swasta dan publik menyediakan berbagai bentuk instruksi, yang ditujukan untuk kelompok tertentu, untuk melayani kebutuhan yang tidak dipenuhi oleh sekolah umum. Di Swedia, misalnya, reformasi yang dilaksanakan pada 1990-an memungkinkan sekolah swasta, nirlaba untuk menyediakan pendidikan umum gratis dengan imbalan pendanaan pemerintah. Contoh lain yang diakui secara internasional adalah BRAC (Komite Aksi Pedesaan Bangladesh), sebuah lembaga swadaya masyarakat (LSM) yang menggabungkan program literasi dan pendidikan dasar berbasis masyarakat dengan kegiatan yang menghasilkan pendapatan untuk anak perempuan dan wanita. BRAC dan LSM lain membantu meningkatkan pendaftaran di sekolah-sekolah Bangladesh dari 55 persen pada tahun 1985 menjadi 85 persen pada abad ke-21.

Dalam program seperti ini, pendidikan untuk masuk pekerjaan, peningkatan, atau promosi terjadi pada skala yang luas dan sistematis, terkadang menawarkan sertifikat pendidikan yang setara dengan gelar sarjana untuk tujuan pendidikan yang dicapai saat bekerja. Lembaga agama, seperti yang telah mereka lakukan di masa lalu, menginstruksikan orang tua dan muda tidak hanya mengamalkan pengetahuan agama tetapi juga mengamalkan nilai dan keterampilan yang diperlukan untuk bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Dan media massa juga dapat dianggap sebagai sistem pendidikan paralel yang menawarkan pandangan dunia dan penjelasan tentang bagaimana masyarakat bekerja, umumnya dalam bentuk hiburan, dan yang secara sistematis menjangkau khalayak yang lebih besar dari pada sekolah formal. Sistem paralel ini dapat melengkapi, bersaing, atau bahkan berkonflik dengan sistem sekolah yang disponsori negara, dan mereka memberikan tantangan bahwa sistem sekolah saat ini, seperti di masa lalu, harus menghadapi dan menyesuaikan sebaik yang mereka bisa.

 

 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar